Cerita Wae Rebo

Sejarah

Lokasi Wae Rebo


keterangan

awal mula
Wae Rebo

abad 11

Masyarakat percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau. Wae Rebo merupakan tempat persinggahan terakhir mereka dari kehidupan yang nomaden. Leluhur mereka telah berhasil menciptakan 7 rumah adat bernama Mbaru Niang. Rumah ini kemudian mampu bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Menurut mereka, Manggarai dulu dipenuhi mbaru niang sebagai rumah yang umum untuk ditinggali.

kolonialisme
Belanda

1900 - 1945

Selama masa kolonialisasi Belanda, masyarakat banyak terpengaruh oleh misionaris. Misionaris datang untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat. Hal ini membuat masyarakat Manggarai mengubah kepercayaan mereka yang mayoritas animisme menjadi agama katolik.

keterangan
keterangan

era
modernisasi

1980 - 2000

Modernisasi membuat masyarakat yang mayoritas tinggal di pedalaman berpindah menjadi masyarakat pesisir / kota. Perubahaan ini mengakibatkan rumah adat mereka ditinggalkan. Adapula yang masih mempertahankan rumah adat namun menggantinya dengan material modern. Rumah rumah adat Wae Rebo pun berkurang menjadi 3 buah pada tahun 1990. Urabnisasi pun meningkat, yang muda mulai meninggalkan desa karena dianggap tidak memiliki peluang besar untuk memberikan pekerjaan.

Kesadaran
masyarakat dengan
lingkungan sekitar

2004 - 2006

Lingkungan sekitar Wae Rebo dipenuhi dengan fauna burung endemik. Hal ini membuat LSM Burung tergerak untuk menyelamatkan habitat burung. yang ada di sekitar Wae Rebo. Hal yang mereka lakukan adalah membuat masyarakat peduli dengan lingkungan sekitar. Untuk itu LSM Burung Indonesia meningkatkan kualitas SDM masyarakat agar tetap menetap disana dan menjaga lingkungan

keterangan
keterangan

meningkatnya
kunjungan
turis asing

2005 - 2007

Ekostisnya kehidupan masyarakat Wae Rebo ternyata mengundang banyak turis asing. Setiap minggunya, masyarakat menerima kedatangan tamu hingga 10 orang turis asing. Menurut data Lembaga Pariwisata Wae Rebo (koperasi desa) tercatat turis Belanda mendominasi kunjungan ke desa ini. Hal ini membuat warga mendapatkan penghasilan tambahan dari pariwisata.

Kembalinya
7 mbaru niang

2008 - 2011

Momen kolosal ini di perkasai oleh gerakan Rumah Asuh. Dengan bantuan beberapa donatur, masyarakat dapat membangun kembali rumah adat mereka. Pembangunan dilakukan secara bertahap selama 3 tahun. Pekerjaan ini dmelibatkan generasi tua hingga muda. Hal ini membuat generasi muda kembali mencintai rumah adat mereka ditengah arus modernisasi.

keterangan

UNESCO Asia-Pacific
Heritage Award

2012

UNESCO memberikan penghargaan tertinggi kepada Wae Rebo atas perjuangan masyarakat untuk tetap mempertahankan rumah tradisional mereka dengan membangun kembali rumah-rumah adat mereka.

peta wae rebo
peta wae rebo
keterangan

peta lokasi
Wae Rebo